Konflik Timur Tengah: Memoar Darah dan Kebencian

Melihat situasi Timur Tengah hari ini yang semakin memanas, diwarnai dengan pergolakan politik antar negara di kawasan tersebut yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir...

Gus Mus Jelaskan Bagaimana Bersikap sebagai Muslim Indonesia

"Sering saya katakan dimanapun, bahwa kita ini adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia,".

Santri Harus Mandiri Ekonomi Supaya Tidak Toma’

Menurut seorang pengurus Pimpinan Pusat Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah, pentingnya kemandirian adalah supaya santri itu tidak toma’ atau mengharapkan pemberian orang lain. sedangkan toma’ adalah sifat yang selalu dikecam dalam kitab-kitab kuning...

NU: Jami’iyah dan Jama’ah

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kini tantangan melakukan modernisasi dalam NU mengambil bentuk modernisasi sistem pengelolaannya. Warga NU telah banyak yang menggunakan computer untuk urusan sehari-hari, hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga harus melaksanakannya....

Teks Deklarasi Hubungan Islam-Pancasila pada Munas NU 1983

Banyak di antara ulama NU seperti KH Wahid Hasyim, KH Masykur dan lain sebagainya menjadi anggota BPUKPI yang bertugas merumuskan dasar negara dan undang-undang dasar. Berikut Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam ...

Sunday, September 20, 2015

Adab Menyembelih Hewan Qurban

Jagad Ijo—
Rais Syuriyah PBNU KH Ahmad Ishomuddin, MAg menyikapi praktik di masyarakat dalam menyembelih hewan hewan qurban. Menurut Gus Ishom, panggilan akrabnya, dimasyarakat sering dipraktikkan tata cara menyembelih hewan qurban yang tidak menggunakan adab atau tata penyembelihan yang baik.


Hal ini disampaikan Gus Ishom di depan Jamaah Ngaji Ahad (Jihad) Pagi, Ahad (20/9) yang rutin dilaksanakan di Gedung NU Pringsewu. Jihad Pagi ini di moderatori oleh H Sujadi yang merupakan Mustasyar PCNU Pringsewu.

Wednesday, September 9, 2015

Dua Jenis Orang NU

Dokter Fahmi Djakfar Saifuddin, Allah yarham, kakak kandung Mas Luqman yang saat ini Menteri Agama, seorang dokter dan sahabat yang paling “gemati” (penuh perhatian) terhadap Gus Dur. .

Pak Fahmi telaten memberi perhatian pada pekerjaan Gus Dur, kegiatan sehari-harinya, keluarganya, bahkan penampilannya. Apakah karena ia begitu terpesona oleh kehebatan Gus Dur hingga tergila-gila padanya?
dr. H. Fahmi Djakfar Saifuddin (kanan) bersama K.H. Achmad Shiddiq

Tidak. Pak Fahmi seorang dokter profesional yang sudah tidak gampang dibikin “gumun” oleh segala gejala makhluk hidup. Kecerdasan Gus Dur yang jauh diatas rata-rata, buat dokter Fahmi normal saja, mengingat latar belakang genetiknya. Keuletan Gus Dur yang tak tertandingi, buat dokter Fahmi cuma hasil logis dari sejarah hidupnya.

Geliat Islam Nusantara Periode Wali Songo

Peran Wali Songo di Indonesia (baca: Nusantara) dalam mendakwahkan Islam menjadi objek riset yang menarik. Jika dilacak, Sunan Ampel sekeluarga datang ke Nusantara pada 1440-an atau tujuh tahun setelah akhir kedatangan Laksamana Muhammad Cheng Ho pada 1433. Praktis, diasumsikan Sunan Ampel sejak awal sudah berdakwah.

“Tapi belum terlalu kuat dan luas dakwahnya. Saya menghitung kira-kira dakwah Islam terorganisasi yang disebut Wali Songo terbentuk sekitar tahun 1470-an, yaitu 30 tahun setelah kedatangan Sunan Ampel di Jawa. Saat itu putra-putranya, antara lain, Sunan Bonang dan para santrinya dewasa,” tutur KH Agus Sunyoto di hadapan para dosen Pascasarjana STAINU Jakarta, Selasa.