Konflik Timur Tengah: Memoar Darah dan Kebencian

Melihat situasi Timur Tengah hari ini yang semakin memanas, diwarnai dengan pergolakan politik antar negara di kawasan tersebut yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir...

Gus Mus Jelaskan Bagaimana Bersikap sebagai Muslim Indonesia

"Sering saya katakan dimanapun, bahwa kita ini adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia,".

Santri Harus Mandiri Ekonomi Supaya Tidak Toma’

Menurut seorang pengurus Pimpinan Pusat Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah, pentingnya kemandirian adalah supaya santri itu tidak toma’ atau mengharapkan pemberian orang lain. sedangkan toma’ adalah sifat yang selalu dikecam dalam kitab-kitab kuning...

NU: Jami’iyah dan Jama’ah

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kini tantangan melakukan modernisasi dalam NU mengambil bentuk modernisasi sistem pengelolaannya. Warga NU telah banyak yang menggunakan computer untuk urusan sehari-hari, hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga harus melaksanakannya....

Teks Deklarasi Hubungan Islam-Pancasila pada Munas NU 1983

Banyak di antara ulama NU seperti KH Wahid Hasyim, KH Masykur dan lain sebagainya menjadi anggota BPUKPI yang bertugas merumuskan dasar negara dan undang-undang dasar. Berikut Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam ...

Monday, December 28, 2015

Gus Dur Ajarkan Kebebasan Memilih Asal Bertanggung Jawab


Jakarta, LTNNUPO
Apabila Gus Dur memberikan kebebasan kepada orang lain, itu pula yang dilakukannya kepada putri-putrinya, termasuk Alissa. Hal itu antara lain terlihat saat Alissa dan saudara-saudaranya memilih dunia pendidikan dan kerja apa yang ingin dimasuki.

Yenny, misalnya dibebaskan saat memilih kuliah Desain Grafis. Lalu setelah lulus, sempat jadi wartawan. Alissa malah aktif di lembaga sosial sejak kuliah sampai saat ini.

Sebagian orang mungkin mengira bahwa pembebasan itu berlaku pada putri-putri Gus Dur dalam hal memilih jurusan saat kuliah dan memasuki dunia kerja. Ternyata dalam memilih jodoh pun, Gus Dur tidak pernah mendikte putri-putrinya.

“Apapun pilihanmu, bapak mendukung asalkan bertanggung jawab,” kata Alissa menirukan komentar Gus Dur saat mengisi bincang-bincang tentang Gus Dur di Radio NU Jakarta.

Alissa dan adik-adiknya, diberikan kebebasan memilih sejak memasuki bangku sekolah. Sewaktu akan masuk SMA 8 yang jauh dari Ciganjur, Alissa meminta pendapat ayahnya.

Gus Dur menjawab, “Tiap pilihan ada konsekuensinya. Pilihan itu nggak pernah ditawar. Memilih ya atau tidak. Semua sekolah itu tergantung orangnya. Kalau sekolahnya bagus tapi orangnya nggak semangat ya sama saja.”

Rambu-rambunya memang hanya seperti itu. Itu menyebabkan Alissa dan adik-adiknya tahu sendiri dari prinsip-prinsip yang diteladankan Gus Dur. Akhirnya akan menentukan semuanya jadi lebih matang.

Ditanya bagaimana seharusnya anak-anak muda sekarang agar bisa menirukan kebaikan Gus Dur, Alissa menjawab, “Itu sebetulnya susah menjawabnya. Karena Gus Dur saat ditanya ‘Gus saya harus bagaimana?’ Gus Dur mengatakan, Jadilah yang terbaik dari dirimu sendiri’. Beliau hanya memberikan petunjuk itu. Itu hanya kita yang tahu.”

Alissa juga menyebutkan contoh yang terjadi dengan dirinya. Menurut Alissa, yang terbaik adalah mengikuti Sabda Rasulullah, dan bermanfaat untuk sesamanya. Lalu ukuran apa? Itu beda-beda. Tetapi kita bisa menjadi yang terbaik dan bermanfaat.”

Adapun saat ditanya “Apakah para Nahdliyin dewasa ini—terutuma kaum muda—sudah seperti Gus Dur?” Alissa berkomentar, “Gus Dur sendiri tidak meminta orang lain agar seperti dirinya.”

Menurut Alissa, yang bisa kita lakukan adalah meneladani  Gus Dur. Itu bisa berupa pemikiran, keteladanan, dan perjuangannya. (Kendi Setiawan/Fathoni)

_________
NUOnline

Saturday, December 5, 2015

Islam Nusantara, Mendahulukan Cinta Tanah Air

LTNNUPO – Beberapa waktu yang lalu jagat maya, khususnya Twitter, digemparkan oleh pemberitaan mengenai Ustadz Maulana. Ya, Ustadz Maulana menjadi buah bibir di media sosial akibat muatan ceramahnya di salah satu stasiun televisi swasta. Dalam ceramah tersebut, Ustadz Maulana berpandangan bahwa soal kepemimpinan tidak ada sangkutpautnya dengan agama. Kepemimpinan bersifat terbuka bagi siapa saja yang mampu dan kompeten. Lebih lanjut, beliau menyatakan pihak yang mempersoalkan agama dalam ranah politik masuk dalam kategori black campaign. Yang sesungguhnya jauh lebih bertentangan dengan asas negara dan juga agama. Pernyataan ini menjadi buah bibir di ruang informasi, yang dinilai sebagian kalangan umat Islam memicu kontroversi. Karena menyingkirkan dalil agama tertentu yang mewajibkan pemimpin harus dari kalangan Islam. Pemberitaan ustadz yang memiliki karakter unik dan jenaka ini sempat menduduki peringkat kedua trending topic di Twitter selama dua hari berturut-turut.

Ada banyak tanggapan pro-kontra mengenai substansi ceramah tersebut, tetapi paling dominan adalah pihak kontra. Banyak ekspresi ketidaksepakatan berseliweran di timeline, tercatat di antaranya berupa cemoohan, hujatan dan umumnya diikuti dengan meme. Tentu yang akan jadi pembahasan utama dalam artikel ini bukan sosok Ustadz Maulana, atau keberhasilannya menyita perhatian dunia maya. Melainkan, benarkah isi ceramah beliau keliru dan menabrak kaidah tertentu, terutama dalam kerangka keindonesiaan? Sebagai masyarakat Indonesia, tentu kewajiban pertama dan paling utama adalah mencintai negara tanpa syarat dan tendensi apapun. Perwujudan sikap cinta tanah air ini idealnya harus kita realisasikan dalam ranah praksis, tak terkecuali politik. Politik erat kaitannya dengan kekuasaan. Sementara kekuasaan bersifat buta, tidak memandang unsur primordial apapun, termasuk dalam kasus ini adalah agama.

Dalam khazanah keindonesiaan, kita mengenal prinsip Bhinneka Tunggal Ika, yang artinya berbeda-beda namun tetap satu jua. Dalam konteks politik, penulis lebih senang membahasakan nilai tersebut sebagai persemaian nilai arif primodial masyarakat. Yang dalam konteks ini tiap agama menyumbangkan nilai etiknya, tanpa harus mengubah tatanan apalagi mempertentangkannya. Melihat Sejarah. Tak perlu dijelaskan dengan data dan survey apapun, kita sudah mengetahui bahwa pemeluk Islam merupakan mayoritas di Indonesia. Dan harus diakui, sumbangsih Islam sangat besar bagi perkembangan republik ini. Puncak ekspresi kebesaran umat Islam Indonesia adalah lahirnya dua organisasi Islam, yakni NU dan Muhammadiyah.

Sudah kita ketahui bersama, bahwa NU dan Muhammadiyah merupakan organisasi Islam yang moderat, inklusif dan toleran. Kedua organisasi ini juga memahami betul karakter serta corak keberagaman masyarakat Indonesia. Sehingga, pertanyaan mengenai komitmen kebangsaan sudah tidak relevan lagi bagi keduanya. Yang justru menjadi pertanyaan mendasar, apakah sikap arif tersebut bisa ditularkan bagi warga Islam di luar organisasi ini? Suasana demokrasi yang kurang sehat justru datang dari kelompok Islam tertentu yang membenturkan keindonesiaan dan keislaman. Fenomena ini diperparah dengan munculnya tindakan pemaksaan terhadap hak-hak sipil, contohnya adalah kepemimpinan. Mereka beranggapan mendahulukan teks agama merupakan kewajiban dibanding amanah UUD dan Pancasila yang disusun oleh founding fathers.

Seharusnya kelompok intoleran ini belajar dari kearifan para pendahulu bangsa, yang sudah bersusah payah merangkai perbedaan dalam kerangka persatuan. Bukan menonjolkan hasrat individual yang hanya menguntungkan pihak tertentu. Sebenarnya, sikap legawa ini dulu sudah pernah dicontohkan oleh pendiri NU melalui resolusi jihad tahun 1945, yang intinya membela negara Indonesia wajib hukumnya. Selain itu, Sidang Konstituante yang membahas dasar-dasar negara juga menegaskan akan pentingnya nilai kebersamaan, bukan superioritas suku, ras, kelompok atau agama tertentu. Kesimpulannya, tak ada yang salah dengan ceramah Ustadz Maulana dalam kerangka keindonesiaan. Justru beliau menunjukan karakter bijak dengan mendahulukan keberagaman serta mengutamakan kualitas dan kompetensi kepemimpinan yang dari situ harapannya akan muncul sikap adil, jujur dan berintegritas. Tentunya sikap tersebut juga sejalan dengan nilai universalitas agama.
__
Islib