Konflik Timur Tengah: Memoar Darah dan Kebencian

Melihat situasi Timur Tengah hari ini yang semakin memanas, diwarnai dengan pergolakan politik antar negara di kawasan tersebut yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir...

Gus Mus Jelaskan Bagaimana Bersikap sebagai Muslim Indonesia

"Sering saya katakan dimanapun, bahwa kita ini adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia,".

Santri Harus Mandiri Ekonomi Supaya Tidak Toma’

Menurut seorang pengurus Pimpinan Pusat Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah, pentingnya kemandirian adalah supaya santri itu tidak toma’ atau mengharapkan pemberian orang lain. sedangkan toma’ adalah sifat yang selalu dikecam dalam kitab-kitab kuning...

NU: Jami’iyah dan Jama’ah

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kini tantangan melakukan modernisasi dalam NU mengambil bentuk modernisasi sistem pengelolaannya. Warga NU telah banyak yang menggunakan computer untuk urusan sehari-hari, hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga harus melaksanakannya....

Teks Deklarasi Hubungan Islam-Pancasila pada Munas NU 1983

Banyak di antara ulama NU seperti KH Wahid Hasyim, KH Masykur dan lain sebagainya menjadi anggota BPUKPI yang bertugas merumuskan dasar negara dan undang-undang dasar. Berikut Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam ...

Thursday, November 12, 2015

Pesantren Kaliopak, Mengembangkan Dakwah Melalui Seni dan Budaya

”Jangan takut untuk merintis pesantren yang sama sekali berbeda dengan pesantren yang sudah ada” – Gus Dur

Pesan Gus Dur itulah yang menguatkan Jadul Maula, pendiri dan pengasuh pesantren Kaliopak, sebuah pesantren yang menggunakan pendekatan seni dan budaya di daerah Yogyakarta. Ia sebelumnya mengalami kebimbangan untuk mewujudkan idenya tersebut. Persoalannya, ini bukan hanya sesuatu yang baru, tetapi harus merubah stigma masyarakat yang menganggap seni tradisi itu tidak islami.

Jadul yang kini juga salah satu wakil ketua Lesbumi NU, lembaga seniman dan budayawan di bawah Nahdlatul Ulama ini mengatakan, ulama dulu mengajarkan nilai agama, di samping melalui pengajaran juga melalui kesenian. Ia ingin melanjutkan tradisi tersebut yang terbukti mampu mendakwah Islam secara damai. Sayangnya, akar tradisi ini sudah ditinggalkan orang. Bahkan banyak tokoh agama menganggapnya seni sebagai perbuatan bid’ah atau sesat.

“Ini ada ironi, paradoks bahwa dulu seni ini menjadi media dakwah.”

Untuk memberi penegasan atau akar atas keberadaan pesantren ini, ia mendasarkan diri pada Sunan Kalijaga dan para muridnya yang dulu pernah berdakwah di daerah ini yang terbukti dengan ditemukannya sejumlah situs.

“Kita niat saja, kita anggap Sunan Kalijaga leluhur kita, kita ini murid-muridnya,” tuturnya.

Kemudian, bersama dengan timnya, ia menelusuri jejak dakwah Sunan Kalijaga. Kulminasinya berupa peringatan 500 tahun Sunan Kalijaga yang diselenggarakan pada 2011. Tujuannya ingin menggali lagi ajaran spiritualitas para ulama dulu yang membentuk masyarakat yang etis karena bangsa Indonesia terkenal ramah dan punya etika.

Ia kemudian melakukan kajian naskah dan berbagai kitab klasik. Misalnya wayang lakon Dewa Ruci yang isinya merupakan ajaran tasawuf. Ternyata naskah ini terkait dengan Suluk Linglung yang mengisahkan pertemuan antara Sunan Kalijaga bertemu Nabi Khidir.

Upaya mengembangkan pesantren berbasis seni dan budaya bagi beberapa kalangan masih dianggap aneh, padahal dulu wayang merupakan tradisi pesantren. Ia mencontohkan keterkaitan wayang dengan pengajian adalah sampai sekarang orang nonton wayang pakai sarung dan kopiah karena dianggap sebagai mengaji atau mendengarkan wejangan.

Jadul yang juga salah satu pendiri Lembaga Kajian Islam dan Sosial (LkiS) ini menjelaskan, berjaraknya kelompok santri dengan seni tradisi memuncak pada era 50-60an. Saat itu persaingan politik sangat kuat. Seni tradisi diambil oleh PNI dan PKI dengan Lekra sebagai lembaga seni budayanya. Seni dipakai untuk persaingan politik dengan menjelek-jelekkan kelompok lain. Akhirnya tokoh agama Islam menciptakan seni yang lebih kearab-araban. Versi lain dari terpisahnya agama dan seni terjadi karena kebijakan Belanda mengacak-acak agama dan adat.

Akibat adanya fase keterputusan, akhirnya seni tradisi digarap oleh kelompok lain dan mengalami sekulerisasi yang hanya bermakna sebagai wahana hiburan.

“Mereka harus dirangkul kembali, kalau misalnya pesantren atau kiai sering nunggoni dalang main. Paling tidak dalang tahu, akan terjadi proses dialog,” jelasnya.

Upaya ini cukup berhasil, terbukti beberapa dalang mulai menyesuaikan diri dengan pesantren. Bahkan ada dalang di Jogja minta agar NU bikin organisasi khusus para dalang. “Nah kalau bisa dirangkul, ada dialog pembenahan. Kalau dilepas, jadi sekuler dan sekedar hiburan. Saya tidak anti eksperimen, tetapi saya yakin wayang dalam tradisi klasik perlu dijaga sebagai dakwah,” tegasnya.

Tidak seperti pesantren konvensional, Pesantren Kaliopak saat ini belum memiliki santri yang mukim secara permanen. Lokasi pesantren menjadi tempat berkumpulnya berbagai komunitas dari berbagai disiplin ilmu di universitas-universitas yang ada di Yogyakarta serta komunitas pelaku seni tradisi. Kegiatan rutin yang diselenggarakan berupa mujahadah, latihan shalawatan Jawa, diskusi dua minggu sekali tentang musik. Pernah pula pesantren menyelenggarakan belajar aksara Jawa karena aksara ini pernah digunakan para Wali untuk mengajarkan Islam dalam konteks budaya Jawa. Ada pula kajian rutin Islam Nusantara.

Ia juga mengadakan eksperimen supaya seni tradisi digabungkan dengan seni modern, misalnya shalawat Jawa dengan orkestra Bethoven yang  sempat tampilkan dalam Muktamar ke-33 NU.

Pesantren sudah pernah menggelar pameran seni rupa tingkat nasional yang sempat dibuka oleh anggota DPR RI Rieke Dyah Pitaloka sedangkan yang satunya oleh adiknya sultan gusti Yudhaningrat.

Lalu, ada pula forum dialog antara kiai dan dalang. KH Musthofa Bisri atau Gus Mus pernah menjadi salah satu narasumber.

Ia sendiri sebenarnya tidak ingin menjadi pengasuh atau kiai pesantren. Tetapi beberapa kiai muda prograsif yang diminta menjadi pengasuh tak bersedia sehingga mau tidak mau, ia memposisikan diri sebagai pengasuh. “Tak ada rotan, akar pun jadi,” paparnya.

Ke depan, ia berharap memiliki kurikulum resmi sebagai panduan para santri untuk belajar. Cita-citanya yang belum kesampaian adalah mengembangkan program Etika Sosial Islam yang saat ini masih kekosongan. (Mukafi Niam)

Wednesday, November 11, 2015

Santri Harus Mandiri Ekonomi Supaya Tidak Toma’

Jakarta,LTNNUPO--
Menurut pengasuh pesantren al-Rabbani Ustad Ali M Abdillah “Program santri entrepreneur memiliki tujuan memberdayakan para santri santri salafiyah atau remaja putus sekolah supaya mereka bisa mengembangkan potensinya menjadi pengusaha atau wirausahawan.

“Supaya kelak mereka menjadi pribadi yang mandiri,“ katanya ketika dihubungi NU Online Kamis malam (9/4). Hal itu diungkapkannya setelah mendapat bantuan 3000 bibit lele dari PP LAZISNU pada Selasa (7/4).

Menurut salah seorang pengurus Pimpinan Pusat Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah, ini pentingnya kemandirian adalah supaya santri itu tidak toma’ atau mengharapkan pemberian orang lain. sedangkan toma’ adalah sifat yang selalu dikecam dalam kitab-kitab kuning yang diajarkan di pesantren.

Jika pesantren mandiri, lanjut dia, bisa menjalankan dakwah ala Sunan Ampel. Ia adalah wali yang petani dan pedagang. Ia melakukan itu agar bisa dengan bukti nyata.

Menurut dia, dakwah Sunan Ampel adalah memberikan payung bagi yang kehujanan, memberikan makanan bagi yang lapar, dan memberikan baju yang tak mampu membelinya.

Pesantren al-Rabbani memiliki beberapa program. Pertama, Islamic School yaitu sekolah Islam baik sekolah formal maupun nonformal seperti Madrasah Diniyah.

Kedua, Islamic Studies and research yaitu pengkajian dan penelitian keislaman yang berbasis pada kitab kuning. Kajian keislaman yang rutin dilaksanakan yaitu pendalaman kitab kuning, tafsir al-Jailany, hadits Riyadhusshalihin, Ihya’ Ulumuddindan al-Futuhat al-Makiyyah dan kajian fiqih madzhab empat.

Ketiga, program entrepreneur yaitu program untuk memberdayakan kaum santri menjadi wirausahawan supaya memiliki kemandirian ekonomi. Keempat, program sosial care yaitu memberikan pembinaan anak putus sekolah supaya dapat melanjutkan dan memberikan beasiswa supaya mereka dapat melanjutkan kuliah.

Saat ini Pesantrenal-Rabbani sedang menyelesaikan pembangunan gedung kedua lima lantai yang akan digunakan untuk masjid/aula center, ruang kelas dan training, asrama santri putri dan putra, dan menyelesaikan gedung ketiga tiga lantai yang akan digunakan untuk ruang kelas.

semoga program-program al-Rabbani dapat berjalan dengan lancar dan membawa manfaa tbagi umat danbangsa,” harap Ustadz Ali M. Abdillah.
________________________________
(BeniNugraha/Abdullah Alawi | Aula)

Tuesday, November 10, 2015

Memberdayakan Madrasah dan Pesantren Lewat Olimpiade Sains Kedokteran

Tangerang Selatan, LTNNUPO--
Tahun ini, mahasiswa penerima beasiswa santri Kementerian Agama RI di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tergabung dalam organisasi CSSMoRA (Community of Santri Scholars Ministry of Religious Affairs) UIN Jakarta kembali mengadakan kompetisi CHEMO (CSSMoRA Health and Medical Olympiad) untuk keempat kalinya.

Acara yang bertajuk “Generasi Cerdas dan Islami untuk Membangun Kesehatan Negeri” ini merupakan kompetisi olimpiade bidang MIPA, biologi kedokteran dan ilmu kesehatan untuk siswa madrasah dan pesantren. Pada tahun ini, CHEMO ke-4 diselenggarakan pada tingkat Jabodetabek. Wilayah regional yang dilaksanakan selama penyisihan lalu bertempat di Bogor, Tangerang, Bekasi, serta Jakarta.

Selanjutnya tim yang berhasil lolos dengan mencapai nilai tertinggi pengerjaan soal diundang di UIN Jakarta sebagai kontestan semifinal. Tercatat 22 tim yang mengikuti babak penyisihan di tiap regional.

Hari Sabtu (7/11) lalu bertempat di Auditorium Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta, terdapat 15 tim finalis yang merupakan perwakilan dari tiap regional dengan nilai tertinggi. Ketua pelaksana CHEMO ke-4, Widya Prayoga menyebutkan, bahwa kompetisi CHEMO ini bertujuan untuk meningkatkan peluang santri dan siswa madrasah untuk berprestasi serta memberdayakan pengetahuan sains dan kedokteran di pesantren juga madrasah.

“Kita ingin memotivasi santri-santri untuk lebih bersemangat dalam mempelajari sains juga ilmu kesehatan,” ujar Widya. Selain itu, lanjutnya, dalam kompetisi ini kami juga membekali para peserta dengan pelatihan Bantuan Hidup Dasar yang akan sangat berguna buat mereka dan orang di sekitarnya.

Babak semifinal yang dilaksanakan ini terbagi menjadi babak presentasi kasus dan praktikum biologi terapan. Melalui ini babaki peserta diperkenalkan untuk mengenal lebih jauh tentang ilmu biologi secara praksis dan analitis, sehingga turut menantang siswa dan santri untuk lebih aktif menggeluti sains. Dari babak semifinal ini terjaring tiga finalis yakni dari MAN 4 Jakarta, dan 2 tim dari MA Kafila Jakarta.

Selanjutnya, dalam babak final dilakukan sistem soal cepat tepat. Para peserta diberikan soal-soal dan harus saling bersaing untuk mencapai poin tertinggi di antara ketiga finalis tersebut. MAN 4 Jakarta akhirnya mampu meraih poin tertinggi dan mendapat piala bergilir Rektor UIN serta sejumlah hadiah. (M Iqbal Syauqi/Fathoni)