Konflik Timur Tengah: Memoar Darah dan Kebencian

Melihat situasi Timur Tengah hari ini yang semakin memanas, diwarnai dengan pergolakan politik antar negara di kawasan tersebut yang telah berlangsung beberapa tahun terakhir...

Gus Mus Jelaskan Bagaimana Bersikap sebagai Muslim Indonesia

"Sering saya katakan dimanapun, bahwa kita ini adalah orang Indonesia yang beragama Islam, bukan orang Islam yang kebetulan berada di Indonesia,".

Santri Harus Mandiri Ekonomi Supaya Tidak Toma’

Menurut seorang pengurus Pimpinan Pusat Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al-Mu’tabaroh an-Nahdliyyah, pentingnya kemandirian adalah supaya santri itu tidak toma’ atau mengharapkan pemberian orang lain. sedangkan toma’ adalah sifat yang selalu dikecam dalam kitab-kitab kuning...

NU: Jami’iyah dan Jama’ah

Tidak dapat dipungkiri lagi, bahwa kini tantangan melakukan modernisasi dalam NU mengambil bentuk modernisasi sistem pengelolaannya. Warga NU telah banyak yang menggunakan computer untuk urusan sehari-hari, hingga Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) juga harus melaksanakannya....

Teks Deklarasi Hubungan Islam-Pancasila pada Munas NU 1983

Banyak di antara ulama NU seperti KH Wahid Hasyim, KH Masykur dan lain sebagainya menjadi anggota BPUKPI yang bertugas merumuskan dasar negara dan undang-undang dasar. Berikut Deklarasi tentang Hubungan Pancasila dengan Islam ...

Tuesday, November 10, 2015

Memberdayakan Madrasah dan Pesantren Lewat Olimpiade Sains Kedokteran

Tangerang Selatan, LTNNUPO--
Tahun ini, mahasiswa penerima beasiswa santri Kementerian Agama RI di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang tergabung dalam organisasi CSSMoRA (Community of Santri Scholars Ministry of Religious Affairs) UIN Jakarta kembali mengadakan kompetisi CHEMO (CSSMoRA Health and Medical Olympiad) untuk keempat kalinya.

Acara yang bertajuk “Generasi Cerdas dan Islami untuk Membangun Kesehatan Negeri” ini merupakan kompetisi olimpiade bidang MIPA, biologi kedokteran dan ilmu kesehatan untuk siswa madrasah dan pesantren. Pada tahun ini, CHEMO ke-4 diselenggarakan pada tingkat Jabodetabek. Wilayah regional yang dilaksanakan selama penyisihan lalu bertempat di Bogor, Tangerang, Bekasi, serta Jakarta.

Selanjutnya tim yang berhasil lolos dengan mencapai nilai tertinggi pengerjaan soal diundang di UIN Jakarta sebagai kontestan semifinal. Tercatat 22 tim yang mengikuti babak penyisihan di tiap regional.

Hari Sabtu (7/11) lalu bertempat di Auditorium Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) UIN Jakarta, terdapat 15 tim finalis yang merupakan perwakilan dari tiap regional dengan nilai tertinggi. Ketua pelaksana CHEMO ke-4, Widya Prayoga menyebutkan, bahwa kompetisi CHEMO ini bertujuan untuk meningkatkan peluang santri dan siswa madrasah untuk berprestasi serta memberdayakan pengetahuan sains dan kedokteran di pesantren juga madrasah.

“Kita ingin memotivasi santri-santri untuk lebih bersemangat dalam mempelajari sains juga ilmu kesehatan,” ujar Widya. Selain itu, lanjutnya, dalam kompetisi ini kami juga membekali para peserta dengan pelatihan Bantuan Hidup Dasar yang akan sangat berguna buat mereka dan orang di sekitarnya.

Babak semifinal yang dilaksanakan ini terbagi menjadi babak presentasi kasus dan praktikum biologi terapan. Melalui ini babaki peserta diperkenalkan untuk mengenal lebih jauh tentang ilmu biologi secara praksis dan analitis, sehingga turut menantang siswa dan santri untuk lebih aktif menggeluti sains. Dari babak semifinal ini terjaring tiga finalis yakni dari MAN 4 Jakarta, dan 2 tim dari MA Kafila Jakarta.

Selanjutnya, dalam babak final dilakukan sistem soal cepat tepat. Para peserta diberikan soal-soal dan harus saling bersaing untuk mencapai poin tertinggi di antara ketiga finalis tersebut. MAN 4 Jakarta akhirnya mampu meraih poin tertinggi dan mendapat piala bergilir Rektor UIN serta sejumlah hadiah. (M Iqbal Syauqi/Fathoni)

Madrasah NU Harus Kaya Inovasi dan Pertahankan Aswaja

Surabaya,LTNNUPO — Tidak ada pilihan lain bagi para pengelola madrasah khususnya di lingkungan NU untuk terus melakukan inovasi agar bisa menjawab kebutuhan tenaga terampil. Kendati demikian, sejumlah terobosan tersebut juga harus tetap menjaga jati diri sebagai madrasah dakwah.

“Inovasi dalam dunia pendidikan adalah sebagai sebuah hal yang tidak dapat dihindarkan,” kata Prof Dr H Abdul Haris, MAg, Senin (9/11).
Ketua PWNU LP Ma’arif NU Jatim ini mengingatkan bahwa tuntutan dunia kerja, kiprah di masyarakat serta jenjang pendidikan yang lebih tinggi kian mengingatkan akan pentingnya inovasi tersebut.

Bagi Profesor Haris, harapan yang demikian tinggi dari berbagai kalangan tersebut hendaknya dapat dijawab dengan berbagai kreasi. “Sehingga lembaga pendidikan tetap ditunggu kiprahnya,” kata dosen pasca sarjana UIN Sunan Ampel Surabaya ini.
Intensitas melakukan pertemuan dengan sesama pengelola lembaga pendidikan juga harus dapat dilakukan. “Dengan demikian terjadi saling berbagi kelebihan dan kreasi yang bermanfaat bagi para pengelola madrasah,” terangnya.

PWNU LP Ma’arif NU Jatim misalnya secara berkala menyelenggarakan sejumlah pertemuan yang menghadirkan para pimpinan madrasah dan penentu kebijakan. “Hal ini seperti yang kami lakukan pada Sabtu, 7 November kemarin di UIN Malang,” katanya. Dalam pertemuan yang dibingkai dengan rapat koordinasi Kepala LP Ma’arif NU se-Jatim tersebut juga menghadirkan Dr Basnang Said MAg selaku Kasi Kurikulum dan Evaluasi Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Kemenag, lanjutnya.

“Pada pertemuan tersebut banyak usulan kreatif dari kepala madrasah yang akhirnya dapat diakomodir oleh Bapak Basnang Said,” tandasnya. Bahkan, sejumlah kebijakan yang akan dan berlaku di setiap lembaga pendidikan juga disampaikan pada kegiatan tersebut.

Dengan kerapnya dilakukan pertemuan tersebut diharapkan para pengelola lembaga pendidikan di lingkungan NU mampu melakukan inovasi sehingga madrasah yang dikelola tetap dipercaya masyarakat. “Demikian juga kemampuan dalam menangklap informasi kebijakan yang akan diberlakukan di setiap lembaga pendidikan juga harus terus diasah,” katanya.

Akan tetapi, segala prestasi dan inovasi tersebut tetap harus bertumpu pada terjaganya Ahlussunnah wal Jamaah ala NU. “Jangan sampai madrasah hanya berburu kemajuan prestasi akademis, namun menanggalkan ruh perjuangan yakni terjaganya Aswaja di setiap lembaga pendidikan,” pungkasnya. (A Nabil Mubarak)

Bertemu Orang Mulia di Mana-mana


Anda dan saya, pasti sering melihat orang yang sangat dihormati karena memang manusia mulia. Derajatnya tinggi di mata Gusti Allah dan makhluknya. Dan karena rasa cinta kita, kita pun senang dan berusaha bisa dekat dengannya. Menciumi tanganya, meminta doanya, dan berharap mendapat hikmat atau berkat darinya.

Menjumpai orang saleh, alim macam itu,  yang biasanya berpenampilan sesuai harkatnya; khas pakaian ulama, bahkan banyak yang secara simbolik menjadi imam, panutan masyarakat, mengasuh pesantren, menjadi guru, dan seterusnya. Itu jelas sudah biasa dan memang begitulah yang kita nikmati selama ini.

Saya sungguh bersyukur, dalam pengembaraan saya berburu kitab-kitab kuno, khususnya kitab-kitab peninggalan Simbah Kiai Sholeh Darat, saya beberapa kali mendapati orang-orang yang luar biasa tapi tersembunyi dari "kemuliaan permukaan".

Saya bertemu dengan orang yang sangat alim, sangat kuat spiritualnya, sangat khusyuk ibadahnya, tetapi sangat tawadhu’ sehingga sangat tidak kelihatan kalau beliau orang mulia di sisi Tuhannya.

Sebab penampilannya jauh dari kesan seorang kiai, kepala tak pernah ditutupi kopiah atau peci. Busananya selalu kaos oblong, celana panjang pun selalu jeans warna anak muda. Bahkan celana seragam SMA!

Tinggal di rumah sempit di kawasan kumuh kota, berbaur dengan orang-orang pinggiran yang terhempas kerasnya kehidupan kapitalis metropolitan. Di gang sempit dan deretan kos-kosan sesak yang isinya berjejal manusia pengais rezeki karena tidak mau mati kelaparan.

Untuk bisa mencapai rumahnya, saya harus memarkir sepeda motor di mulut lorong, lalu berjalan di jalan sempit yang selokannya mampat berbau pesing. Tapi, Masya Allah, di balik tumpukan pakaian anak-anaknya, tersimpan rapi kitab-kitab mutiara hasil karya ulama nusantara. Dan rutin beliau baca secara diam-diam di malam hari, jangan sampai terlihat tetangga.

Subhanallah, beliau bisa menerangkan kepada saya, aneka ilmu dari kitab-kitab langka itu, yang tidak pernah saya dapatkan dari bangku madrasah maupun semasa mondok di pesantren. Beliau bisa "saya paksa " dengan ilmu plekathik saya, sehingga mau cerita tentang hal-hal luar biasa yang pernah dialaminya.

Takjub sekali saya, orang yang  sama sekali tidak tampak sebagai panutan umat, ini kapan pun bisa ditemui Nabi Khidlir, Syeh Abdul Qodir Jailani, dalam keadaan terjaga maupun mimpi. Beberapa kali beliau mimpi ditemui Kanjeng Nabi Muhammad. Dan tentu saja, sangat biasa berjumpa dan muhadatsah dengan Mbah Sholeh Darat.

Salah satu kisah mimpinya ditemui Rasulullah, kala itu beliau usai ditinggal wafat putrinya yang berusia 7 tahun. Sedih kehilangan anak, beliau pun berdoa dengan mendawamkan dzikir entah apa, (beiau tidak mau memberitahu saya).  Dalam tidur usai kantuknya karena lelah, di malam usai tahlilan untuk anak perempuannya itu, beliau bermimpi disapa Kanjeng Nabi.

"Assalamualaikum, Ya ....... (nama beliau).

Gelagapan, dalam mimpi itu, beliau bertanya kepada sosok yang memberi salam.

"Jenengan sinten?"

"Ana Rasulullah. Ini anakmu kuajak bersamaku".

Di mimpi itu, beliau melihat putrinya yang telah wafat, tampak tersenyum dan melambai sambil digandeng Kanjeng Nabi. Lambaian seperti mengajak ayahnya ikut serta bersama  Kanjeng Nabi.

Subanallah. Saya dan Anda bertemu orang mulia di masjid atau musholla, itu pasti sudah biasa. Melihat orang mulia yang disanjung dan dihormati di keramaian, pasti sudah sering.

Tapi bertemu orang luar biasa yang tidak kelihatan sebagai "siapa-siapa", mungkin sangat jarang. bahkan tidak pernah. dan bersyukurlah jika Anda pernah diwejang guru atau orang tua, agar bersiap jumpa orang mulia dalam wujud yang sangat beda. Bahkan Nabi Khidir sering muncul dalam rupa penampilan orang yang tidak disukai, seperti gembel berbau tengik atau pria buruk rupa yang mengemis di depan pintu rumah Anda.


________________
Mohammad Ichwan
Semarang

Tiga Amalan Istimewa, Penuntun Langkah Menuju Ridla Illahi


Oleh: KH. M. Anwar Manshur

الْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى إِنْعَامِهِ وَالصَّلَاةُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ نالنَّبِيِّ الْمُصْطَفَى وَالرَّسُوْلِ الْمُجْتَبَى وَعَلَى آلِهِ كُلَّمَا ذَكَرَهُ الذَّاكِرُوْنَ وَغَفَلَ عَنْ ذِكْرِهِ الْغَافِلُوْنَ

Pembaca yang dirahmati Allah…
Menjalani hidup di zaman yang kian sarat dengan cobaan seperti sekarang ini, mengharuskan setiap insan memiliki bekal moral yang memadai. Agar tidak terombang-ambing ke sana kemari, tidak mudah hanyut oleh arus perubahan yang kian deras menerpa. Sebab, cobaan dan godaan yang silih berganti mungkin saja melemahkan pertahanan iman, bahkan merobohkan benteng ketakwaan dalam hati seseorang.

Pembaca yang dirahmati Allah…
Dalam ajaran Islam, ada tiga amalan yang bisa menuntun seseorang menjalani hidup. Memapahnya selangkah demi selangkah untuk menggapai asa dan cita, menjemput ridla Ilahi Rabbi. Ketiga amalan tersebut adalah: Pertama, Istikharah, mempertimbangkan dengan matang setiap tindakan yang dilakukan.
Istikharah artinya selalu berusaha mencari yang terbaik dari setiap tindakan yang akan dilakukan. Selalu mempertimbangkan dampak positif dan negatif dari suatu perbuatan, bagi kehidupan pribadi maupun bagi masyarakat. Dampak bagi kehidupan di dunia, maupun di akhirat kelak.

Dengan beristikharah, seseorang tidak akan pernah gegabah dalam menentukan langkah. Ia tidak akan pernah melakukan suatu perbuatan sebelum ia berpikir akibat baik buruknya perbuatan tersebut. Rasulullah Saw bersabda:
إِذَا أَرَدْتَ أَمْرًا فَتَدَبَّرْ عَاقِبَتَهُ فَإِنْ كَانَ خَيْرًا فَأَمْضِهِ وَإِنْ كَانَ شَرًّا فَانْتَهِ

“Ketika engkau ingin melakukan sesuatu, maka pikirkanlah akibatnya. Jika akibatnya baik, maka lakukanlah. Dan jika akibatnya buruk, maka tinggalkanlah.”

Untuk itu, seseorang dianjurkan untuk berkonsultasi dan bermusyawarah dengan orang lain dalam setiap rencana. Dengan bermusyawarah, hasil yang dicapai akan lebih maksimal karena dipertimbangkan dengan sudut pandang yang lebih banyak dan lebih menyeluruh. Sabda Rasul SAW. menyebutkan:

مَا خَابَ مَنِ اسْتَخَارَ وَلَا نَدِمَ مَنِ اسْتَشَارَ

“Tidak akan pernah merugi orang yang mau bermusyawarah, dan tak akan pernah menyesal orang yang mau beristikharah.”
Terlebih lagi, jika musyawarah itu dilakukan dengan orang alim yang memiliki kedekatan kepada Allah SWT. Sebab, cahaya ilahiyah selalu menerangi jiwa mereka, sehingga mereka dapat memandang segala sesuatu secara lebih mendalam, serta dipertimbangkan sesuai dengan hukum dan hikmah yang ditetapkan Allah. Firman Allah dalam AlQuran menyebutkan:

فَاسْأَلُوا أَهْلَ الذِّكْرِ إِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

“Maka bertanyalah kalian kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.”
Selanjutnya, jika telah diputuskan untuk melakukan sesuatu, maka haruslah berpasrah kepada Allah. Berharap agar pilihan ini adalah yang terbaik serta mendapat tuntunan dalam menjalankannya.

Amalan kedua adalah Istiqamah, konsisten dalam menjalankan pilihan hidup. Kunci kedua agar dapat menjalani hidup dengan tenang dan tidak terombang-ambing adalah istiqamah. Istiqamah adalah sikap konsisten dan terus-menerus dalam menjalani usaha demi tercapainya suatu tujuan. Dengan memiliki sikap istiqamah, seseorang tidak akan kehilangan arah tujuan, tidak mudah terpengaruh, dan tidak mudah patah semangat.

Dengan istiqamah, cita-cita akan mudah tercapai, sebab orang yang memiliki sikap istiqamah tidak akan berhenti berusaha atau berputus asa. Sedikit demi sedikit asalkan terus dilakukan, setapak demi setapak asalkan tetap melangkah dan berjalan. Syair Arab menyebutkan:

حَيْثُمَا تَسْتَقِمْ يُقَدِّرْ لَكَ # اللهُ نَجَاحًا فِيْ غَابِرِ الْأَزْمَانِ

“Sekira engkau beristiqamah, maka Allah akan mentakdirkan bagimu keberhasilan dimasa mendatang.”
Dalam Alquran, Allah SWT menjanjikan kepada orang-orang yang memiliki sikap istiqamah, mereka tidak akan pernah merasa gundah, takut atau susah. Ini semua karena mereka berprinsip dalam menjalani hidup, dan berpasrah menerima segala keputusan Allah atas dirinya. Allah SWT. berfirman:

إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللَّهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا فَلا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلا هُمْ يَحْزَنُونَ. أُولَئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, ‘Tuhan kami adalah Allah’ kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itu lah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.”

Namun demikian, memegang prinsip bukan berarti harus selalu menang sendiri. Seseorang tidak boleh memaksakan kehendak dirinya pada orang lain, karena setiap orang memiliki jalan hidup yang berbeda-beda. Jadi, istiqamah adalah sikap tidak memaksakan diri kita menjadi orang lain (berprinsip), dan tidak memaksakan orang lain menjadi diri kita (egois). Istiqamah itu tegas tapi lunak, berprinsip namun juga bertoleransi, mengalir tapi tidak terhanyut.

Hal ketiga dari amalan istimewa tersebut adalah Istighfar, instropeksi dan pembenahan diri. Jika setiap pilihan hidup telah dipertimbangkan dengan segala kemungkinan dampak positif dan negatifnya, dan pilihan itu telah dijalankan dengan istiqamah, maka sikap yang sangat penting dilakukan adalah istighfar. Secara bahasa, makna istighfar adalah meminta ampunan. Bukan hanya demikian, istighfar juga mengandung makna selalu introspeksi terhadap kesalahan dan kekurangan diri, untuk tujuan pembenahan berikutnya. Sejenak menengok masa lalu, menatap langkah-langkah yang telah terukir, demi melanjutkan langkah yang telah tertata, membenahi yang masih terserak, dan menciptakan langkah baru yang lebih baik. Dalam Alquran Allah SWT. berfirman:

وَالَّذِينَ إِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً أَوْ ظَلَمُوا أَنْفُسَهُمْ ذَكَرُوا اللَّهَ فَاسْتَغْفَرُوا لِذُنُوبِهِمْ وَمَنْ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ إِلا اللَّهُ وَلَمْ يُصِرُّوا عَلَى مَا فَعَلُوا وَهُمْ يَعْلَمُونَ. أُولَئِكَ جَزَاؤُهُمْ مَغْفِرَةٌ مِنْ رَبِّهِمْ وَجَنَّاتٌ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الأنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَنِعْمَ أَجْرُ الْعَامِلِينَ

“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka. Dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan keji mereka itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang di dalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya: dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.”

Pembaca yang dirahmati Allah…
Dengan ketiga amalan di atas, insyaallah seseorang bisa tabah menghadapi segala tantangan zaman. Mampu mengatasi segala masalah dan siap menghadapi segala cobaan yang merintangi jalan. Tidak mudah terseret arus, namun juga tidak kaku ataupun egois. Semoga kita selalu dikaruniai cahaya hidayah-Nya, yang selalu menerangi langkah kita, menapaki jalan menuju ridla Allah. Amin ya rabbal alamin...

Madrasah Insklusi, Tempat Belajar yang Ramah bagi Difable


Jakarta, LTNNUPO--
Untuk menunjang proses belajar mengajar bagi siswa berkebutuhan khusus atau siswa difable, madrasah kini mulai membuka sejumlah sekolah yang dilengkapi dengan sarana dan prasarana agar mereka dapat belajar dengan baik.

Direktur Madrasah Kementerian Agama Nur Kholis Setiawan menjelaskan, sekolah yang ramah terhadap kelompok difable tersebut disebut sebagai sekolah inklusi sebagai bentuk pengakuan terhadap kelompok yang memiliki kebutuhan berbeda.

“Ini dalam rangka menjawab, tidak benar kalau Kementerian Agama tidak peduli dengan kelompok difable,” katanya, di Jakarta Senin.

Dalam sekolah inklusi tersebut, siswa berkebutuhan khusus digabung dengan siswa biasa, tetapi mereka mendapat perhatian lebih, tetapi ada pula yang secara khusus mendirikan sekolah bagi kelompok difable.

Saat ini Kemenag sudah memulai dengan 28 sekolah. 8 sekolah mendapatkan perlengkapan pembelajaran bagi difable sedangka 20 lainnya mendapatkan pelatihan ke arah inklusi. Mereka yang sudah mendapat bantuan adalah yang selama ini sudah memiliki guru, biasanya yang kurang adalah alat pembelajarannya.

“Paling tidak kita sudah menabung,” menegaskan bahwa ke depan, sekolah inklusi akan terus ditambah.  (Mukafi Niam)

Monday, November 9, 2015

Saat Ini Islam Aswaja di Indonesia Memasuki Darurat Media


Surabaya, LTNNUPO-- Dunia memasuki tantangan baru yakni dengan masuk di era televisi dan internet. Sebaran informasi dan dakwah yang akan mempengaruhi khalayak sangat ditentukan dari dua media ini. Bila gagal menguasai, maka Islam Aswaja benar-benar terancam.

“Jangan heran kalau banyak kalangan berlomba menguasai internet dan televisi. Hal itu dilakukan karena keduanya sebagai sarana efektif dalam mencari keuntungan dan mempengaruhi masyarakat,” kata H A Hakim Jayli, Ahad (8/11).
Direktur TV9 Surabaya ini mengemukakan banyak kalangan yang memiliki prinsip bahwa memiliki jamaah itu tidak terlalu penting.

“Menguasai televisi dan internet saja sudah cukup dalam mempengaruhi pola pikir dan pandangan terhadap berbagai persoalan,” kata Mas Hakim, sapaan akrabnya.
Ia kemudian membandingkan dengan jamaah dan jam’iyah NU yang memiliki kepengurusan hingga anak ranting dan jamaah yang demikian besar. “Tapi kalau dalam siaran tv dan internet kita kalah, maka jangan salahkan umat kalau mereka berbeda haluan,” sergahnya.

Hakim Jayli menggugah sejumlah penerbit dan pegiat buku di tingkat pesantren dan NU untuk bersama membuat tayangan yang mampu mengimbangi tayangan di sejumlah tv dan internet. “Kita kaya khazanah pengetahuan, banyak tokoh ulama dan kiai, tradisi yang juga sarat dengan nilai keislaman, tapi sangat jarang yang menvisualkan dan menyebarkannya lewat internet maupun tv,” terangnya.

Karenanya, yang harus terus digalakkan adalah bagaimana generasi muda NU dan pesantren memiliki keterampilan dan keinginan untuk mengunggah khazanah luhur yang ada di komunitasnya dengan memanfaatkan dua media tersebut.
“Kita boleh marah dengan tayangan sejumlah tv dan sebaran berita di internet yang menyerang Ahlussunnah wal Jamaah,” katanya. Namun marah saja tidak bisa memberikan solusi bila tidak diimbangi dengan menyebarkan konten yang menguatkan Aswaja, lanjutnya.

Karenanya, di sinilah pentingnya mengkonsolidir media-media NU dalam menghadapi tantangan dan problematika global. “Kata kuncinya adalah networking agar khazanah pesantren dan NU dapat dioptimalkan penyebarannya di sejumlah media, baik televisi maupun internet. Baginya, hal mendesak inilah yang harus segera dilakukan karena Islam di Indonesia telah memasuki era darurat media, lanjutnya.

Peringatan ini disampaikan Hakim Jayli saat menjadi narasumber sarasehan dan musyawarah penerbit pesantren dan nahdliyin Jawa Timur. Kegiatan diselenggarakan PW Lembaga Ta’lif wan Nasyr NU (PW LTN NU Jatim) di Museum NU Surabaya. (A Nabil Mubaraw)

Ribuan Seniman Kutuk Pembakaran Reyog


PONOROGO, LTNNUPO--Gelombang demo memprotes atas pembakaran properti reyog di KJRI Davao, Philipina terus mengalir hingga Kabupaten Ponorogo, sebagai asal kesenian Reyog, Selasa(10/11).

Kali ini ribuan seniman Reyog di Ponorogo turun ke jalan yang berasal dari berbagai komunitas dan paguyuban reyog yang ada di Ponorogo. Tak hanya warga Ponorogo saja, tapi pendemo juga berasal dari kota-kota sekitar Ponorogo dan juga dari Ibu kota Jakarta.

Ribuan seniman reyog tersebut menggelar aksi dimulai dari aloon-aloon kota Ponorogo yang kemudian berlanjut di depan kantor Pemkab dan gedung DPRD Ponorogo.

Perwakilan dari pendemo kemudian melakukan audensi di lantai 2 gedung DPRD yang berada di jalan Aloon-Aloon Timur. Mereka diterima unsur pimpinan Dewan dan Pj Bupati Ponorogo Maskur.

“Kami tidak terima dengan pembakaran reyog yang terjadi di KJRI Davao beberapa waktu yang lalu,”ucap Grendo, salah satu seniman Reyog yang tergabung dalam Komunitas Pandemen Reyog Ponorogo.

Lebih lanjut Grendo yang berasal dari Mlarak ini menegaskan, agar pelaku segera meminta maaf kepada rakyat Ponorogo,”tuntutan kami yaitu mereka segera meminta maaf kepada warga Ponorogo sebagai pemilik kesenian reyog ini,”tegasnya.

______________________
(wad/kanal-ponorogo.com)